Minggu, 24 November 2019

MAKALAH K3 PERTAMINA PHE ONWJ







Di susun Oleh :
Nama      : Furqon Hendrawan
NPM      : 22416934
Kelas      : 4ic02




JURUSAN TEKNIK MESIN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS GUNADARMA
Mengutamakan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3)
Karakteristik operasi Perusahaan yang memiliki risiko tinggi, menjadikan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) sebagai aspek yang penting bagi Perusahaan. Keselamatan pekerja menjadi perhatian utama dengan sasaran agar pekerja bebas dari kecelakaan atau penyakit akibat kerja sehingga dapat menjalankan tugasnya secara produktif.
PHE ONWJ memiliki komitmen kuat dalam pencapaian Kesehatan, Keselamatan, Keamanan, dan Lindung Lingkungan (K3LL) yang unggul. Komitmen tersebut tertuang dalam Kebijakan K3LL yang ditetapkan pada 1 Juni 2015. Pada tahun 2016 telah dilakukan review, sehingga mengeluarkan Kebijakan PHE ONWJ pada 1 April 2016 serta Komitmen K3LL dan Mutu pada 1 Juni 2016 melalui pengesahan President/General Manager PHE ONWJ dan VP HSSE. Komitmen Mutu dan K3LL bertujuan untuk meraih perbaikan kinerja secara berkesinambungan, tanpa adanya insiden, yang berorientasi pada bisnis berkelanjutan
Budaya K3 Perusahaan
Program K3LL yang diterapkan menjadi tanggung jawab seluruh pekerja dan kontraktor yang bekerja di wilayah kerja Perusahaan. Fungsi fasilitator, advisor dan assurance menjadi tanggung jawab fungsi HSSE, yang ada pada setiap lokasi kerja, divisi maupun pada level organisasi. Target PHE ONWJ setiap tahunnya adalah zero fatality. Kesehatan dan keselamatan kerja tertuang dalam perjanjian kerja yang diatur secara terpisah, sedangkan persyaratan K3LL dan HSSE Plan untuk setiap kontraktor ditetapkan dalam kontrak dan perjanjian kerja. Apabila terdapat perubahan kebijakan dalam perjanjian kerja, PHE ONWJ akan memberikan informasi kepada karyawan 90 hari sebelum perubahan dilakukan
Pada tahun 2016 terdapat 3 kasus recordable incident, yaitu 1 kasus Lost Time Incident (LTI) dan 2 kasus Restricted Work Day Cases (RWDC). Kecelakaan yang terjadi umumnya melibatkan pekerja kontraktor dan terkait dengan kategori hand and finger injury. Jumlah tersebut turun dibandingkan dengan tahun 2015. Penurunan ini merupakan hasil dari implementasi program awareness dan intervensi sebagai berikut:
1. Hand and Finger Prevention Program Meliputi:
• Melakukan Safety Stand Down (SSD) kejadian Hand & Finger Injury di seluruh site
• Melakukan survey kuisioner untuk melihat persepsi para pekerja lapangan terhadap bahaya tangan dan jari yang ada pada pekerjaan mereka
• Mensosialisasikan praktek kerja aman terkait sesuai tempat kerja dan bahaya yang ada
• Melakukan Haa zards Hunt & Hazards Mapping terhadap semua potensi bahaya cidera tangan dan jari
• Memberikan Safety Sign pada area berbahaya yang telah di identifikasi pada Hazards Hunt
• Membuat dan memasang Hand & Finger Posters pada area keja
• Mendorong para pekerja untuk melaporkan pengamatan yang terkait dengan potensi cidera tangan dan jari melalui TUNTAS

2. Corrective Action and Reporting System (CARS) CARS adalah aplikasi online yang berfungsi untuk mencatat issue ketidaksesuaian dan monitoring (tracking system) terhadap suatu tindakan perbaikan (corrective action) yang di kelola dan dimonitor oleh divisi HSSE. CARS digunakan untuk mencatat issue yang terkait dengan insiden, audit, compliance, Management Walkthrough (MWT), defect, inspeksi, dll. Implementasi CARS memudahkan user melakukan pencatatan hasil tindakan perbaikan yang sesuai dan memastikan agar tindakan perbaikan dilakukan sesuai dengan waktu yang di targetkan. Hasil temuan ketidaksesuain dapat menjadi acuan dalam menganalisa akar masalah yang diharapkan tidak

terulang lagi dikemudian hari.

PHE ONWJ menyadari seluruh kegiatan eksploitasi migas memiliki tingkat risiko yang sangat tinggi sehingga Kami berkomitmen untuk mengelola risiko kesehatan, keselamatan, keamanan dan lingkungan dari aktivitas kerja. Oleh karena itu, PHE ONWJ melakukan pendataan risiko untuk seluruh jenis pekerjaan agar mampu merancang upaya tindak lanjut. Pendataan risiko yang dilakukan dengan Integrated Risk Register sehingga seluruh risiko dapat diketahui aktivitasnya secara langsung dan terintegrasi kepada seluruh pekerja dan manajemen.

Berdasarkan Integrated Risk Register PHE ONWJ maka terdapat pekerjaan high risk selama tahun 2016 diantaranya project Arco Ardjuna Dry Dock (AADD), Pipeline Repair and Replacement Project (PRRP), dan Lima Power & Safety System Upgrade (LPSU). Pelaksanaan proyek AADD dimulai dengan swapping dan towing untuk dilakukan pekerjaan Tank Cleaning, pemusnahan sludge dan UT Tank gauging yang diselesaikan di awal April 2016. Dilanjutkan proses swapping sampai Arco Ardjuna back-on-line menerima produksi minyak kembali. Pelaksanaan proyek PRRP berhasil melakukan pemasangan pipeline ESRA-ESA menjadi catatan kebanggaan tersendiri untuk PHE ONWJ pada tahun 2016 ini karena pipa ESRA-ESA yang telah terpasang adalah pipa flexible tipe Reinforced Thermoplastic Pipe (RTP), yang merupakan pipa flexible RTP pertama dipasang di perairan Indonesia.
Pelaksanaan proyek LPSU telah berhasil mengoperasikan 2 unit paket Gas Turbine Generator baru melalui proses start up yang telah dilakukan dengan aman. Proses ini kemudian dilanjutkan dengan periode performance test. Dan unjuk kerja dari sistem kelistrikan tersebut, seringkali mengalami downtime sehingga hal tersebut menyebabkan potensi pengurangan produksi secara signifikan. Jenis Pekerjaan dengan potensi insiden skala besar diantaranya Pekerjaan Tank Cleaning, Mooring Kapal, Operasi Penyelaman, Isolasi Energi, Pekerjaan Pengangkatan, dan Aktifitas Hot Work.

Proyek AADD Pekerjaan
dengan Risiko Tinggi Kecelakaan Kerja atau Penyakit Akibat Kerja
Jenis Pekerjaan
Resiko yang di timbulkan
Upaya dan Tindak Lanjut Perusahaan
1. % LEL Hydrocarbon,
Potensial electrostatik,
Tingginya kadar O2,
Keterbatasan akses
saat masuk ke ruang
terbatas selama
aktivitas Tank Cleaning,
Floating Repair & Dry
Docking
2. Cuaca buruk/ terguling, kegagalan mesin kapal & tanker, gangguan komunikasi, tabrakan antara Tanker Swapping, Supporting Boat/SPM, dan Lifting Tanker selama Tandem Mooring
1.Kebakaran/ledakan akibat aktivitas pekerjaan panas selama Floating Repair & Dry Docking




2. Tabrakan antara Swapping Tanker / Kerusakan properti / Tumpahan minyak
• Prosedur dan sertifikat Tank Cleaning & Gas Freeing
• Tersedianya tim rescue di dekat tank hatch
• Prosedur pekerjaan panas dan masuk ke ruang terbatas
• Sertifikat masuk ke ruang terbatas
• Prosedur kebugaran untuk bekerja
• Induksi keselamatan
• T-Card
• Tersedianya SCBA & ELSA (Emergency Life Support Apparatus)
• Pemantauan gas secara periodik menggunakan Portable Gas Detector
(H2S, CO, O2, %LEL)
• Penggunaan gas detector pribadi
• Menjaga komunikasi antara Atendant & Entrances
• Attendant selalu berada di tank hatch entrance
• Implementasi izin bekerja (PTW) untuk kegiatan pekerjaan panas dan
masuk ke ruang terbatas
• Melakukan pelatihan darurat (termasuk kebakaran dan evakuasi
medis)
Cuaca buruk/ terguling,
kegagalan mesin kapal
& tanker, gangguan
komunikasi, tabrakan
antara Tanker
Swapping, Supporting
Boat/SPM, dan Lifting
Tanker selama Tandem
Mooring
Tabrakan antara
Swapping Tanker /
Kerusakan properti /
Tumpahan minyak
• Prosedur Marine telah disetujui (termasuk batasan kondisi cuaca yang
diperbolehkan)
• Prakiraan cuaca
• Prosedur penambatan
• ERP bridging
• Mengamankan seluruh material yang longgan sebelum berangkat
• Mengamankan rantai jangkar
• Memastikan ballast water untuk stabilitas Arco Ardjuna
• Periksa performa mesin Tanker dan Kapal
• Melaksanakan prosedur Marine dan mensosialisasikan ke pekerja
terkait
• Efektivitas dalam penggunaan fasilitas radio komunikasi
• Komunikasi dan koordinasi yang baik antara pekerja yang terlibat
• Melakukan drift test sebelum mendekati SPM
• Memastikan keselarasan jadwal Arco Ardjuna
• Sosialisasi prosedur penambatan ke pekerja terkait
• Tersedianya Boat untuk mengakomodasi Oil Boom selama aktivitas
swapping











DAFTAR PUSTAKA